Menjomblo Seumur Hidup, Bolehkah?

Download

Pernikahan merupakan ibadah yang sakral dan agung. Karena pernikahan menyatukan dua insan yang berbeda jenis dan juga berbeda fikiran dalam satu bahtera rumah tangga. Sehingga kesabaran, komitmen dan kedewasaan adalah hal-hal yang sangat dituntut dalam pernikahan.

Kemudian pernikahan juga merupakan solusi terbaik bagi fitnah syahwat. Ketika dengan menikah setiap orang bisa melampiaskan syahwat dan dalam waktu yang sama perbuatan itu juga terhitung ibadah disisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian pernikahan juga merupakan sarana untuk menjaga keberlangsungan kehidupan manusia

Perintah Untuk Menikah

Terlalu banyak perintah dan anjuran dalam Al-Quran maupun hadist untuk menikah, diantaranya firman Allah subhanahu wa taala:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum-mu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan” [Ar-Ra’d: 38]

Ayat di atas merupakan isyarat dari Allah tentang pentingnya pernikahan, sehingga Allah berikan kepada setiap nabi terdahulu istri-istri dan juga keturunan.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ.

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk menikah dan mencari keturunan sebagaimana sabdanya:

تَزَوَّجُوْا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَـامَةِ،

“Menikahlah, karena sesungguhnya aku akan membangga-banggakan jumlah kalian kepada umat-umat lain pada hari Kiamat”

Hukum Menikah

Download 1 1

Hukum menikah itu sangat tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukannya. sebagaimana yang dikemukanan oleh Imam Al Qurthubi:

قال علماؤنا: يختلف الحكم في ذلك باختلاف حال المؤمن من خوف العنت الزنى، ومن عدم صبره، ومن قوته على الصبر، وزوال خشية العنت عنه

“Para ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantung keadaan masing-masing orang dalam tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal tersebut.”

1.Wajib

Menikah hukumnya wajib bagi yang mampu hubungan badan. Ibnu Hazm dalam kitabnya al-Muhalla mengatakan:

مسألة: وفرض على كل قادر على الوطء إن وجد من أين يتزوج أو يتسرى أن يفعل أحدهما ولا بد، فإن عجز عن ذلك فليكثر من الصوم

“Wajib bagi lelaki yang mampu hubungan badan, jika dia memiliki dana untuk menikah, atau membeli budak wanita, untuk melakukan salah satunya (menikah atau memiliki budak wanita), dan itu harus. Jika dia tidak mampu secara dana, maka hendaknya dia memperbanyak puasa. Kemudian Ibnu Hazm menyebutkan hadis di atas.”

2. Sunnah

Disunnahkan bagi yang mampu menikah dan dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam maksiat jika tidak menikah. Sehingga latar belakang perintah nikah adalah karena dalam rangka menghindari yang haram. Inilah pendapat mayoritas ulama

Imam Nawawi dalam kitabnya syarh shahih muslim mengatakan:

وفي هذا الحديث الأمر بالنكاح لمن استطاعه وتاقت إليه نفسه وهذا مجمع عليه لكنه عندنا وعند العلماء كافة أمر ندب لا إيجاب فلا يلزم التزوج ولا التسري سواء خاف العنت أم لا

“Dalam hadis ini terdapat perintah untuk menikah bagi orang yang mampu dan jiwanya sangat bernafsu. Ini disepakati ulama. Namun menurut kami dan banyak ulama, perintah ini sifatnya anjuran, dan bukan wajib. Karena itu, tidak wajib harus menikah atau memiliki budak wanita, baik khawatir zina atau tidak.”

Menjomblo Seumur Hidup Bolehkah?

Images 4

Larangan Membujang

Jika menikah adalah sunnah (menurut mayoritas ulama) bolehkan seseorang membujang atau tidak menikah sampai mati?

Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

رَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ ، وَلَوْ أَذِنَ لَهُ لاَخْتَصَيْنَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan ‘Utsman bin Mazh’un untuk tabattul (hidup membujang), kalau seandainya beliau mengizinkan tentu kami (akan bertabattul) meskipun (untuk mencapainya kami harus) melakukan pengebirian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pernah ada di antara sahabat ada yang punya tekad untuk enggan menikah karena ingin sibuk dalam ibadah. Anas bin Malik berkata:

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ . قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا . فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

“Ada tiga orang yang pernah datang ke rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka diberitahu, tanggapan mereka seakan-akan menganggap apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa-biasa saja.

Mereka berkata, “Di mana kita dibandingkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Padahal dosa beliau yang lalu dan akan datang telah diampuni.”

Salah satu dari mereka lantas berkata, “Adapun saya, saya akan shalat malam selamanya.”

Yang lain berkata, “Saya akan berpuasa terus menerus, tanpa ada hari untuk tidak puasa.”

Yang lain berkata pula, “Saya akan meninggalkan wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Kaliankah yang berkata demikian dan demikian. Demi Allah, aku sendiri yang paling takut pada Allah dan paling bertakwa pada-Nya. Aku sendiri tetap puasa namun ada waktu untuk istirahat tidak berpuasa. Aku sendiri mengerjakan shalat malam dan ada waktu untuk tidur. Aku sendiri menikahi wanita. Siapa yang membenci ajaranku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari keterangan hadist-hadist diatas, terlihat bahwa membujang tidak dianjurkan sama sekali. mengingat bahwa menikah mendatangkan begitu banyak kebaikan. Bahkanpun ketika ada sahabat yang meminta izin untuk tidak menikah dengan tujuan untuk beribadah maka rasulullah tidak mengizinkannya, bahkan rasululullah yang merupakan hamba paling bertaqwa dan paling baik ibadahnya juga menikah.

Ada Banyak Ulama Membujang Sampai Wafat

Syaikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah, mengkompilasi beberapa profil ulama-ulama yang membujang sampai akhir hayatnya dalam buku berjudul al-‘Ulamaa al-‘Uzzaab alladziina Aatsaru al-‘Ilma ‘an al-Ziwaaj (Ulama yang Membujang: Mereka Yang Mendahulukan Ilmu dibandingkan Menikah).

Seperti judulnya, ulama yang dikumpulkan di dalam bukunya merupakan ulama hebat di masanya.  Di antara ulama yang tidak menikah adalah Ibn Jarir al-Thabari, pengarang tafsir Quran terbesar pertama berjudul Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Aayi al-Qur’an. Dan Imam al-Nawawi, ulama besar mazhab Syafi’i yang memiliki banyak sekali karya, di antara yang paling dikenal adalah Arba’in al-Nawawiyah. Kemudian ada juga Syaikhul islam ibnu Taimiyah yang tersohor karna karya-karyanya yang luar biasa.

Namun kesibukan mereka dengan ilmu dan kesabaran mereka untuk tidak menikah, membuat mereka memilih untuk tidak berpasangan meskipun ia mengetahui hukum-hukumnya. Menurut Syaikh Abu Ghuddah, pilihan mereka adalah hasil pandangan spiritual namun mereka tidak berusaha mengajak orang lain agar sama dengan mereka, bahkan mereka menganjurkan orang lain untuk menikah.

Lalu apakah mereka bersalah karena membujang, padahal telah datang larangan untuk membujang?

Benar menikah merupakan ibadah yang sangat sakral dan agung. Ibadah dimana terkumpul didalamnya segala macam kebaikan dan pahala berlimpah. Akan tetapi seperti yang sudah di paparkan diatas, para ulama berbeda pendapat seputar hukum pernikahan.

Sebagian ulama ada yang membaginya menjadi lima hukum: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram, ada pula yang membaginya menjadi beberapa bagian saja. Pembagian ini tentunya dilihat dari kebutuhan dan keadaan setiap orang. bagi yang membutuhkannya maka hukum menikah baginya wajib, adapun bagi yang tidak membutuhkanya maka tidak mungkin memaksakan kewajibannya sementara dia mampu menjaga dirinya dari zina dan bahkan dengan tidak menikah maslahatnya lebih besar.

Adapun ulama-ulama terdahulu yang membujang seperti Imam Nawawi dan Ibnu taimiyah, mereka membujang bukan karena tidak ingin menikah atau bahkan sengaja tidak menikah. Akan tetapi mereka menyibukkan diri dengan ilmu dan Jihad serta mendidik umatdan mereka mampu menjaga diri mereka dari zina.

Terbukti dengan kejuduhudan dan keseriusan mereka dalam menuntut ilmu lahirlah karya-karya hebat dari berbagai macam disiplin ilmu. Karya-karya mereka sampai saat ini dinikmati dan dijadikan rujukan serta di ajarkan di mana-mana dan memberikan manfaat yang sangat luar biasa bagi kemajuan peradaban dan keilmuan islam.

Jadi, mereka membujang bukan tanpa alasan, dan sebenarnyapun mereka membujang bukan karna tidak ingin mengikuti sunnah nabi, akan tetapi karena kesibukan mereka serta berbagai macam ujian dan cobaan yang menerpa sampai mereka lebih dahulu berjodoh dengan kematian.

Bahkan Ibnu Jauzi pernah mengatakan:

وَأختار للمبتديء في طلب العلم أن يدافع النكاح ما أمكن، فإن أحمد ين حنبل لم يتزوج حتّى تمت له أربعون سنة، وهذا لأجل جمع الهم – أي للعلم

Saya memilih (pendapat) bagi pelajar tingkat awal untuk menghalau keinginannya untuk menikah sebisa mungkin. Sesungguhnya Imam Ahmad bin Hanbal tidak menikah sampai berusia empat puluh tahun. Itu semua demi mengumpulkan ilmu.”

Anda sendiri yang sampai saat ini masih hidup membujang bisa menilai diri anda sendiri masuk pada kondisi yang mana? Jangan-jangan Anda cuma menghabiskan waktu muda Anda dengan sia-sia dan tak punya karya apa-apa seperti Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah.

Bahkan mungkin anda sering baper ketika melihat pasangan-pasangan halal berjalan di depan anda, atau mungkin status anda isinya adalah taaruf dan pernikahan, atau mungkin kontak whatsaap anda adalah asrama putri atau asrama putra.

Jika anda berada dalam kondisi seperti itu, maka menikahlah. Karna hukum menikah bagi anda adalah wajib dan segera.